SHARE NOW

AMAL

*AMAL*

Selama beberapa dekade terakhir, teknologi implan microchip telah berubah dari fiksi ilmiah menjadi kenyataan.

Saat ini tercatat ratusan ribu orang di seluruh dunia memiliki chip atau pemancar elektronik di dalam tubuhnya. Sebagian besar untuk alasan medis, seperti implan koklea untuk membantu orang tuli mendengar.

Baru-baru ini, penggemar modifikasi tubuh dan teknofil telah memasang microchip di tubuh mereka yang melakukan segalanya mulai dari menyalakan mobil hingga mengirim pesan teks hingga melakukan pembayaran dalam bitcoin.

Pasar untuk teknologi implan nonmedis belum diatur. Padahal faktanya ribuan orang di seluruh dunia telah menanam implan mikrochip dalam 12 bulan terakhir.

Selama beberapa tahun terakhir, seruan untuk mengatur secara ketat atau bahkan melarang implan sukarela semakin keras. Ada tempat untuk mengatur implan, seperti teknologi lainnya — tetapi juga ada kebutuhan untuk memisahkan ketakutan dari kenyataan.

Adalah Amal Graffstra, pendiri Perusahaan ‘Dangerous Things’ di Seattle Washingtom yang berfokus pada penjualan mikrochip implan untuk berbagai keperluan. Misalnya memasang dua microchip ke tangan dan pergelangan tangan untuk memungkinkannya membuka komputer dan rumah miliknya dengan gelombang sederhana, adalah tindakan yang mudah.

Amal memulai “biohacking” (bereksperimen dengan materi genetic) lebih dari satu dekade lalu, bekerja untuk menanam chip identitas frekuensi radio (RFID) dan komunikasi dekat bidang (NFC) ke dalam tubuhnya. Ketertarikan akan karyanya begitu kuat, sehingga ia memulai bisnis yang menjual microchip implan yang ramah manusia, tak seperti yang ditemukan pada hewan peliharaan.

“Awalnya saya hanya ingin menyingkirkan kunci saya, tapi sekarang, ide ‘biohacking’ adalah metode komunikasi pengganti) manusia pada umumnya,” tutur Amal. Alat ini non-medis memberi kemampuan yang tidak dimiliki manusia sebelumnya. Ibarat hp/laptop yang tertanam dalam tubuh kita. “Kami ingin bisa mendemokratisasikan teknologi, membuatnya bisa diakses, membuatnya aman,” jelas Amal.

Perusahaan Amal, ‘Dangerous Things’, menjual alat pelekat yang harganya antara 50-100 dolar (atau setara Rp 650 ribu-1,3 juta), dengan tambahan 100 dolar untuk membuat alat itu tertanam sebagai implan. Perusahaan ini telah menjual sekitar 15.000 alat, dengan sekitar 200 di antaranya terjual di Australia, negara yang terpopuler ketiga untuk start-up milik Amal.

Harga penawaran yang relatif rendah untuk mengakses teknologi berarti mereka yang ingin tahu bisa membeli secara online dan “meretas” tubuh mereka sendiri secara efektif. Ini telah memicu kumpulan orang yang dikenal dengan sebutan “grinders” (pengasah) -mereka yang berusaha untuk meningkatkan kemampuan tubuh mereka sendiri dengan perangkat elektronik dan semangat swadaya.

“Saya rasa ini adalah waktu yang sangat menarik bagi bidang ‘biohacking’ dan teknologi pada umumnya, sekarang kita melihat peningkatan jumlah orang yang tertarik pada augmentasi manusia dan perluasan kemampuan manusia,” kata Jonathan Oxer, seorang warga Melbourne, dan salah satu dari segelintir orang di dunia yang telah ‘menanaminya’ dirinya dengan chip RFID.

“Kita akan mulai melihat lebih banyak sistem yang dikembangkan, yang memungkinkan kita untuk mengontrol hal-hal yang menggunakan pikiran atau menghubungkan perangkat ke tubuh yang bisa kita kontrol,” tutur Jonathan.

“Secara tradisional, hal itu telah memicu proyek-proyek penelitian yang sangat mahal untuk mengungkap hal-hal semacam itu,” sambungnya. “Banyak alat yang diterbitkan sekarang ini adalah sumber yang terbuka. Apa yang dilakukan adalah memungkinkan kita untuk berkolaborasi pada desain dan dengan cara yang serupa perangkat lunak sumber terbuka, memungkinkan banyak pengembang untuk bekerja sama,” jelas Jonathan.

Sementara chip yang tersedia sekarang memungkinkan pengguna untuk membuka rumah mereka, menyalakan mobil mereka dan menyimpan identitas mereka, Amal membayangkan masa depan akan dipenuhi lebih banyak aplikasi termasuk metode pembayaran ‘tap and pay’ (sentuh dan bayar), dan pemantauan kesehatan.

Awal tahun ini, Amal Graafstra menciptakan prototipe senjata pintar, di mana pemicunya hanya bisa diaktifkan oleh chip yang tertanam di lengannya.

Oke deh, Amal adalah sedikit orang jenius. Seakan jadi “time traveller” yang berasal dari masa depan dan kaya imajinasi, namun ternyata terwujud di era saat ini.

Rica/TvS.

Pengunjung

Online : 0

Pengunjung hari ini : 0

Kunjungan hari ini : 0

Pengunjung kemarin : 101

Kunjungan kemarin : 119

Total Pengunjung : 24353

Total Kunjungan : 62032

Home

© 2021 PT.Sidoarjo Maju Media. All Rights Reserved.

Design by Velocity Developer

NEWSTICKER
No post ...