SHARE NOW

revitalisasi makam pondok pesantren Sono oleh Jenderal Dudung

Rabu (31/8) hari ini, dilakukan ground breaking revitalisasi makam pondok pesantren Sono oleh Jenderal Dudung @dudung_abdurachman, Gubernur Khofifah @khofifah.ip juga Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor @ahmadmuhdlorali

Kenapa harus direvitalisasi?

Warga Sidoarjo banyak yang kurang mengetahui dimana letak pondok pesantren Sono. Padahal dalam sejarah, banyak ulama besar nyantri di sini. Seperti Mbah Abdul Karim Lirboyo, Mbah Hasyim Asy’ari Jombang, Mbah Wahid Hasyim, Mbah Ma’shum Ali Kwaron Jombang, KH Masykur Malang Menteri Agama RI, KH Khozin Mansur Putat Tanggulangin dan lain-lain belajar ilmu shorof di pesantren Sono.

Kini, wujud pesantren itu tinggal bekasnya yaitu satu mushola dan pemakaman kecil di depan pesolatan di dalam komplek markas ksatrian TNI Guspujat Buduran.

Konon, mushola dan makam ini menyatu di dalam Pondok Pesantren Sono atau popoler di kalangan santri dengan sebutan “Shono”. Di dunia santri, yang bikin terkenal pondok ini adalah karya kitab yang disebut “tashrifan Shono” . Kitab yang berisikan amalan santri dan ulama.

Pendiri pesantren Sono adalah Mbah Muhayyin bersama dua putra beliau: Mbah Abu Mansur dan Mbah Zarkasi. Mbah Zarkasi memiliki cucu KH Ali Mas’ud Pagerwojo bin Mbah Said bin Mbah Zarkasi. Banyak sumber yang mengatakan bahwa Mbah Ali Mas’ud Pagerwojo juga lahir di pesantren Sono.

Kenapa pesantren ini akhirnya tinggal sejarah tak berbekas? Mulanya adalah pada masa kependudukan Jepang. Tentara Nippon itu datang menggusur pesantren untuk dijadikan markas tentara. Santri dan pengasuh tercerai berai. Keluarga pengasuh bahkan sempat mengungsi ke Jember. Setelah Jepang kalah perang, markas diambil alih oleh TKR/TNI hingga sekarang.

Karena beralih fungsi menjadi markas TNI dan oleh tentara didirikanlah kompleks perumahan, maka pondok pesantren pun menghilang. Bahkan, pada zaman orde baru makam para sesepuh ulama sono tertutup untuk umum.

Beberapa kali upaya pengembalian lahan pesantren. Puncaknya saat Gus Dur jadi presiden. Keluarga pesantren, KH Ma’shum dan para pendamping dipanggil Mabes TNI. Hasilnya, nihil dalam hal pengembalian aset lahan. Sekarang makam bisa diziarahi umum.

Pengunjung

Online : 0

Pengunjung hari ini : 39

Kunjungan hari ini : 88

Pengunjung kemarin : 72

Kunjungan kemarin : 103

Total Pengunjung : 16891

Total Kunjungan : 43769

Home

© 2021 PT.Sidoarjo Maju Media. All Rights Reserved.

Design by Velocity Developer

NEWSTICKER
No post ...