SHARE NOW

Intermezo Budaya *Sumpeg*

Intermezo Budaya

*Sumpeg*

Suatu sore yang sibuk, datang seorang kawan lama curhat ke gubuk. Tentang rezekinya yang banyak hilang gara-gara ditinggal pelanggan.

Namanya, sebut saja Jae. Pelaku usaha yang bergerak di bidang properti. “Saya ditinggal hampir 99 persen pembeli. Sepi tidak ada penjualan. Utang bank menumpuk karena tidak mampu bayar cicilan bulanan. Benar-benar rezeki saya hilang sekarang,” ujar Jae.

Mendengar curhatnya, saya tarik napas panjang. “Kopi sasetane monggo diminum. Sekarang situasi darurat. Hampir semua sektor usaha lesu. Tidak berkembang dan hanya bisa bertahan pun sudah bagus,” jelas saya.

“Bagaimana situasi kehilangan rezeki yang saya alami ini dilihat dari sisi hakekatnya?” tanya Jae.

Kalau kita pikirkan bersama, namanya kehilangan itu tidak ada kok. Sebab sejatinya kita ini tidak memiliki apa-apa. Bukankah tubuh, napas, diri ini semuanya adalah milik Allah taala?

Kehilangan itu adalah kembalinya sesuatu kepada Sang Pemilik (Allah). Kita tidak memiliki apa-apa. Hanya merasa memiliki. Rasa memiliki itulah yang merantai kita. Membebani dan menggelisahkan kita.

Merasa kehilangan bisa menjadi pelajaran terbaik agar kita kembali ingat masa lalu kita. Bahwa sejak lahir kita tak memiliki apa yang kita sangka milik kita.

Lahir tidak membawa apa-apa. Belum menyadari rasa kepemilikan.
Di sekeliling ada orang tua, ada tubuh dan cuma bisa nangis.

Bayi yang suci, belum punya kesadaran akan hak milik itulah sesungguhnya yang menjadi titik tujuan pendakian spiritual. “Ora duwe roso duwe, sebab kabeh iki sejatine Allah sing duwe,”

Terhadap semua rasa kehilangan, pantaslah mengucapkan: Inna lillaahi wa innaa ilaihirooji’uun, sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali Al-Baqarah, 156.

Apa yang kita anggap hilang, sesungguhnya tidak pernah hilang. Tapi berpindah dalam ruang waktu lain dan kembali kepada Yang Punya Semua ini.

Itu sebabnya, kita perlu legowo atas ketentuan bahwa Beliau Allah yang mengatur kemana yang hilang itu akan kembali.

“Legowo ikhlas itu abot, tapi kudu dijalani. Pembersihan diri sebelum anasir tanah ini menjadi cahaya di sisiNya. Amin,”

Jae manggut-manggut mendengar omongan saya. Kini, saya yang ganti merasa kehilangan. Biasanya dia protes ini dan itu. Kok sekarang kayak kerbau dicocok hidungnya.

Mungkin dia dapat hidayah. Hatinya berganti terang, karena sumpegnya pindah ke hati saya. Waduh gantian.

Pengunjung

Online : 0

Pengunjung hari ini : 110

Kunjungan hari ini : 262

Pengunjung kemarin : 144

Kunjungan kemarin : 419

Total Pengunjung : 32575

Total Kunjungan : 78114

Home

© 2021 PT.Sidoarjo Maju Media. All Rights Reserved.

Design by Velocity Developer

NEWSTICKER
No post ...