SHARE NOW

Wapres : Kekaguman Bangsa Lain Terhadap Toleransi Di Indonesia

TVSidoarjo-Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin mengatakan toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia mendapat pengakuan yang baik dari berbagai bangsa. “Mereka melihat bagaimana kita bisa membangun keutuhan bangsa, karena ada kesepakatan Pancasila. Jadi mereka kagum. Kita yang kadang-kadang tidak merasa bahwa kita ini jadi sorotan berbagai negara,” kata Wapres dalam keterangan dari Biro Pers, Media dan Informasi (BPMI) Sekretariat Wapres, Rabu (05/01/2022).

Wapres berusaha mendorong seluruh masyarakat Indonesia untuk terus mempertahankan toleransi dan menjaga kerukunan antarumat beragama. “Indonesia ini luar biasa, bahkan tentang toleransi, menurut kita kan masih belum baik betul ya, tetapi menurut orang lain (toleransi) ini luar biasa,” ujar Wapres.

Wapres menceritakan pengalamannya didatangi seorang produser film asal Italia yang ingin mendokumentasikan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Produser dan tim tersebut mengunjungi beberapa daerah, antara lain Candi Borobudur di Jawa Tengah, Gunung Bromo di Jawa Timur, dan pedalaman Lebak di Banten untuk mengenal kehidupan masyarakat setempat. “Saya didatangi sama produser film dari Italia, dia mau lihat Islam Nusantara itu seperti apa. Dia datang ke Banten lihat ada Baduy, ke Borobudur, ke Bromo yang orang-orang Hindu, mereka tidur nyenyak di sekitarnya umat Islam, nggak ada masalah,” katanya.

Setelah berkunjung ke daerah dengan kondisi umat yang majemuk, katanya, produser tersebut mengakui bahwa kehidupan antarumat beragama di Indonesia menjunjung tinggi toleransi dan menjaga kerukunan. “Dia (produser)bilang ini nih Islam Nusantara yang sangat toleran. Lalu dibikin film, ada satu pesantren dan saya menjadi penasihatnya, disebarkan, diputar di Roma, di Vatikan, dia bilang ini luar biasa,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, Wapres juga pernah menerima kunjungan Asosiasi Cendekiawan Muslim Majelis Hukama Al Muslimin yang berpusat di Abu Dhabi untuk belajar mengenai toleransi di Indonesia. “Sekjennya ketemu saya, dia bilang dia datang ke Indonesia karena mau belajar tentang toleransi di Indonesia. Oleh karenanya, sekarang tidak lagi zamannya menerjemahkan bahasa Arab ke bahasa Indonesia, tapi harus dibalik, menerjemahkan Indonesia ke Arab tentang tradisi dan tatanan kehidupan di Indonesia,” tutupnya.

Sumber: Bpmi

Jurnalis: noe

Pengunjung

Online : 0

Pengunjung hari ini : 22

Kunjungan hari ini : 27

Pengunjung kemarin : 58

Kunjungan kemarin : 82

Total Pengunjung : 10131

Total Kunjungan : 32089

Home

© 2021 PT.Sidoarjo Maju Media. All Rights Reserved.

Design by Velocity Developer

NEWSTICKER
No post ...