SHARE NOW

INI DIA HARTA KARUN SIDOARJO SESUNGGUHNYA, LOGAM TANAH JARANG

*INI DIA HARTA KARUN SIDOARJO SESUNGGUHNYA, LOGAM TANAH JARANG*

Tim Investigasi TVSidoarjo

Ramai diperbincangkan soal potensi logam tanah jarang (rare earth) di lumpur Lapindo, Sidoarjo setahun terakhir. Keberadaan logam tanah jarang juga disebut-sebut sebagai harta karun kota delta.

Semburan lumpur Lapindo yang belum berhenti selama 16 tahun disebut mengandung ‘harta karun’. Kandungan bernilai ekonomis ini adalah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element serta lithium.

Tim terpadu riset mandiri dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pernah meneliti potensi lumpur Lapindo dan menemukan lithium berdasarkan penelitian tersebut. Menurut penuturan pakar Geologi ITS, Amien Widodo, pihaknya sebetulnya telah melakukan penelitian itu sejak lama.

“Kalau ITS kan istilahnya hanya penelitian awal saja. Kita hanya eksperimen beberapa titik saja sambil untuk melihat hasilnya. Nah itu belum bisa kita, sampai jadi belum, kita hanya melihat kandungan lithium dari lumpur,” jelas Amien, dikutip detik.com.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Eko Budi Lelono, mengungkapkan kajian pernah dilakukan terhadap lumpur Lapindo mengandung logam tanah jarang. Ia menyebutkan logam tanah jarang merupakan salah satu mineral yang dibutuhkan dalam pengembangan kendaraan listrik.

Apa itu logam tanah jarang?

Melansir dari laman americangeosciences.org, logam tanah jarang merupakan sebuah elemen yang terdiri dari 17 unsur logam. Logam tanah jarang memiliki lima belas lantanida pada tabel periodek ditambah dengan itrium dan skandium. Dalam istilah ilmiah, logam tanah jarang disebut Rare Earth Elements (REE).

Logam tanah jarang dikategorikan menjadi unsur ringan (lanthanum sampai samarium) dan unsur berat (europium dan lutetium). Secara kimia, logam tanah jarang adalah agen pereduksi kuat. Senyawa mereka umumnya ionik dan menunjukkan titik leleh dan titik didih yang tinggi. Logam tanah jarang bereaksi dengan unsur-unsur logam dan non-logam lainnya untuk membentuk senyawa yang masing-masing memiliki perilaku kimia tertentu.

Secara geologis, unsur logam tanah jarang tidak terlalu langka. Unsurnya bisa ditemukan di banyak tempat di seluruh dunia dengan beberapa elemen di kerak bumi seperti tembaga dan timah. Namun, logam tanah jarang tidak pernah ditemukan dalam konsentrasi yang sangat tinggi. Biasanya ditemukan bercampur satu sama lain dengan unsur radioaktif.

Kegunaan logam tanah jarang

Mengutip dari lynasrareearths.com, kandungan senyawa yang terkandung dalam logam tanah jarang membuat mereka sangat diperlukan bahkan tidak tergantikan dalam banyak aplikasi elektronik, magnetik, optik, dan katalitik.

Senyawa logam tanah jarang biasanya berpendar di bawah sinar ultraviolet yang membantu mengidentifikasi mereka. Logam tanah jarang juga bereaksi dengan air atau asam encer untuk menghasilkan hidrogen.

Beberapa produk yang menggunakan logam tanah jarang sebagai komponennya seperti smartphone, harddrive komputer, dan turbin angin. Selain itu, unsur logam tanah jarang juga digunakan dalam militer, seperti tampilan elektronik, sistem radar, dan sonar. Jumlah logam tanah jarang yang terkandung beragam. Bisa banyak dan ada yang lebih sedikit.

Sejarah logam tanah jarang

Logam tanah jarang atau rare earth ditemukan dari sebuah batu hitam saat penggalian tambang oleh seorang penambang di Ytterby, Swedia, pada 1788. Disebut “rare” atau langka karena belum pernah ditemukan sebelumnya. Sedangkan “earth” atau bumi adalah istilah geogelogis abad 18 untuk batuan yang dapat larut dalam asam.

Melansir dari ugrg.ft.ugm.ac.id, para ahli kimia dan mineralogi akhirnya mampu meneliti dan mengidentifikasi sejumlah 14 unsur REE pada abad ke 19. Lalu pada 1907, penemuan unsur lutetium dan promethium menutup sejarah penemuan logam tanah jarang. Kedua unsur itu merupakan unsur terakhir yang ditemukan.

Mengapa logam tanah jarang berharga?

Dengan pesatnya kemajuan teknologi, maka logam tanah jarang merupakan material yang banyak dicari. Meskipun logam tanah jarang tidak hanya ada di satu wilayah dan mudah dijangkau pada permukaan bumi.

Produksi logam tanah jarang didominasi oleh Cina pada 2008. Tahun berikutnya, Cina memonopoli produksi logam tanah jarang global sampai 97 persen. Hal inilah membuat dunia khawatir yang disebut sebagai Rare Earth Crisis. Sejak saat itu, Cina mulai mengubah regulasi logam tanah jarang. Mereka membatasi ekspor hingga mengatur jumlah logam tanah jarang yang akan dijual keluar. (Tim/bbs).

Pengunjung

Online : 0

Pengunjung hari ini : 76

Kunjungan hari ini : 197

Pengunjung kemarin : 147

Kunjungan kemarin : 295

Total Pengunjung : 31316

Total Kunjungan : 75160

Home

© 2021 PT.Sidoarjo Maju Media. All Rights Reserved.

Design by Velocity Developer

NEWSTICKER
No post ...